[IDVolunteering] Menjadi Relawan = Memberikan Penghargaan kepada Diri Sendiri

Tahun 2013 adalah awal mula saya terjun dalam kegiatan kerelawanan. Saya mulai mencintai bidang ini berkat bergabung dengan Indonesia International Work Camp (IIWC), salah satu organisasi kerelawanan internasional di Indonesia. IIWC merupakan organisasi di bawah PKBI Jateng yang memiliki komunitas di beberapa kota yang menjadi wadah bagi para relawan menyalurkan ide-ide sosial mereka. Kebetulan saya kuliah di Bandung, dan saat itu hanya ada 5 orang volunteer berdomisili di Bandung yang bergabung dengan IIWC. Kemudian kami bersama-sama membentuk IIWC community Bandung (ICB) dan melakukan beberapa kegiatan sosial. Pengalaman pertama saya adalah menjadi fasilitator, tenaga pengajar di Desa Batu Loceng, Cibodas, Jawa Barat. Hampir setiap minggu kami berlima bergantian datang ke desa tersebut dan belajar bersama anak-anak di desa. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempersiapkan workcamp pertama di Bandung yang diadakan di Batu Loceng. Kegiatan workcamp merupakan kegiatan dua minggu ‘berkemah’ dengan relawan dari luar negeri.

Jika tahun 2013 adalah tahun pertama diadakan workcamp, maka tahun 2014 adalah tahun pertama saya mengikuti workcamp dan menjadi camp leader (penanggung jawab workcamp). Pengalaman workcamp pertama saya bertempat di daerah Pulosari di bawah jempatan Pasopati. Saya bersama partner camp leader dan relawan dari beberapa negara seperti Indonesia, Jepang, Lithuania dan Polandia melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan utama kami adalah membersihkan sungai Cikapundung dan menanamkan kesadaran kepada penduduk setempat untuk menjaga kebersihan sungai dan lingkungan.

Cleaning CIkapundung River part 1
Cleaning CIkapundung River part 1

Banyak pengalaman dan perubahan yang saya rasakan ketika melakukan kegiatan kerelawanan. Saya sangat ingat ketika pertama kali turun untuk membersihkan sungai Cikapundung bersama teman-teman relawan lainnya, pemikiran saya tersentil ketika melihat teman-teman relawan yang datang jauh-jauh dari Jepang, Lithuania, dan Polandia tersebut mengambil sampah-sampah di sungai tanpa mengeluh. Bagaimana bisa mereka jauh-jauh ke Indonesia, dengan uang pribadi mereka, hanya untuk membantu kami membersihkan sungai sedangkan orang-orang yang tinggal di sekitar sungai saja tidak peduli dengan kebersihan lingkungannya. Pemikiran tersebut seketika membuat saya yang sebagai orang Indonesia malu. Mungkin sejak saat itu, tanpa sadar saya mulai melakukan kebiasaan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat dan memperingatkan orang-orang di sekitar saya yang ketawan membuang sampah sembarangan.

Tahun kedua Cikapundung Workcamp: membersihkan sungai dengan anak-anak setempat
Tahun kedua Cikapundung Workcamp: membersihkan sungai dengan anak-anak setempat

Selain itu, ketika memperingati World Food Day tahun lalu, saya juga memiliki kebiasaan baru untuk tidak menyisakan makanan karena hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengurangi sampah. Saya juga ikut kegiatan bertani yang setelah saya sadari ternyata tidaklah mudah. Maka dari itu, kita harus lebih mengapresiasikan para petani dengan tidak membuang-buang makanan.

Hal yang benar-benar saya sadari ketika melakukan segelintir kegiatan kerelawanan adalah bahwa perubahan paling besar yang dirasakan itu datang pada diri sendiri. Percayalah, setiap kali kita melakukan kegiatan kerelawanan dengan tulus, walaupun kita tidak melakukan perubahan besar untuk lingkungan di sekeliling kita, setidaknya kegiatan tersebut membantu kita untuk memperbaiki diri lebih dulu. Selain itu juga, kegiatan kerelawanan menumbuhkan rasa kepedulian dan kepekaan kepada sekeliling kita.

Link terkait: Volunteering Activities

Tulisan ini ditujukan untuk mengikuti Lomba Blog Kesukarelawanan

Advertisements

PROFAUNA Camp 2015

You know what, this is one of my great experiences to go camping in the forest, meet new friends, and learn new things. Honestly, I was a bit worry to join the camp especially when knowing that the area is difficult to get water and it meant we wouldn’t take a bath for 3 days. Gosh! but anyway it was to make the participants understand how it feels when there is no water in this earth. We learnt that we shouldn’t waste water because it becomes valuable and precious when there is no water at all.

I was glad that I also learnt more about forest, wildlife and something new though like camera trap and GPS for the theme is about forest. Forest is such a key of life because if there is no forest then there is no life. Forests are important because they serve a watershed. they also serve as a home (habitat) to millions of animals. Forests serve climate control because trees and soils help regulate atmospheric temperatures through a process called evapotranspiration. This helps to stabilize the climate. Additionally, they enrich the atmosphere by absorbing bad gases (example CO2 and other greenhouse gases) and producing oxygen. Trees also helps to remove air pollutants. Imagine what would be our life if the forests are destroyed.

I also learnt how to survive in the forest, I meant not really survive, only like how to pee or poo in the forest where is no water there, build a tend, cook in the forest (actually I had never went camping or climbing mountain and that isn’t my thing anyway).

There were also many challenging games that built more the confidence and also team work. We played game to build trust with friend like we should jump from back without looking at the people who will catch us. It was really scared me but maybe it is fun (I didn’t try it anyway :p) the games that really memorable for me are making art installation from material in forest with the theme endangered animals. My team made a hawksbill sea turtle and we got second position for that. Yay! then, when the participants were asked to stay 10 minutes ‘alone’ in the forest to hear the sounds from the forest. It felt so calm and I loved it!

Another experience that I will never forget is when we had an independence ceremony in the pine forest and sang Indonesian anthem. Joining PROFAUNA Camp is really great experience for me. It makes me realize how important the water and forest are for our life.

See the Pictures

Lagi marak bgt kasus pembunuhan hewan langka yg dilindungi dan foto bareng orangutan di kebun binatang. Jujur aja aku juga pernah melakukan kesalahan besar tersebut beberapa tahun silam sebelum aku mulai mengenal dan mengerti tentang bagaimana pentingnya hewan2 hidup di alam bebas tanpa gangguan dari manusia, bagaimana jahatnya manusia yang memanfaatkan kebebasan monyet2 kecil demi meraup uang yang tidak seberapa, bagaimana kejamnya manusia2 yang tertawa ketika menonton pertunjukan sirkus tanpa paham bagaimana perasaan hewan2 yg dipermainkan hidupnya. Aku dulu juga seperti itu. Aku senang menyaksikan kelucuan dan kepintaran yang dilakukan hewan2 sirkus tanpa menyadari bahwa mereka dipaksa melakukan hal tersebut demi mendapatkan makan! Tapi setelah aku menyadari perbuatanku, aku merasa malu. Tulisan ini dibuat hanya untuk sekedar memberitahukan kepada kalian yang membaca karena masih banyak rupanya orang2 yang tidak mengetahui dan menyadari perbuatan yang ternyata sangat menyakiti jiwa2 hewan yang tidak bersalah tersebut.
#orangutanbukan mainan #stopsirkusdanberfotobersamaorangutan

Ps: Pada tanggal 7 Juli besok COP akan mengadakan kampanye bertemakan #OrangutanBukanMainan serentak di 9 kota besar di Indonesia, salah satunya Bandung. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian manusia pada orangutan. Di Kota Bandung, kampanye akan diadakan di Alun-alun Ujung Berung pada hari Selasa, 7 Juli 2015 jam 10.00-11.00 WIB. Untuk kamu yang berada di Bandung dan ingin berpartisipasi dalam kampanye ini, dapat menghubungi 085624066740 atau line sadidun. Ingat, dukungan kecilmu sangat berarti untuk kesejahteraan banyak nyawa di luar sana. If animal can’t speak, then WE will be their voices!

View on Path

Moment dari Sebuah Pelarian

Body rafting at Goa Lanang was sooo much FUN!
Body rafting at Goa Lanang was sooo much FUN!

Jika kau lelah maka berhentilah sejenak

Perjalanan tiga hari dua malam menuju Goa Lanang, Pangandaran, yang baru saja aku lalui merupakan bentuk pelarian diri dari penatnya kehidupan sehari-hari dan skripsi, serta pengalihan dari rasa kecewa karena tidak jadi mengikuti COP School. Aku memutuskan untuk ikut kegiatan volunteering IIWC di Goa Lanang, Pangandaran, bersama keempat temanku yang kebetulan juga ikut. Aku benar-benar tidak berharap apapun pada kegiatan tersebut, aku hanya ingin berhenti sejenak dari rutinitas yang itu-itu saja dan mencari suasana baru serta teman-teman baru. Dan benar saja tiga hari disana aku menemukan banyak hal baru, sebuah moment, dan orang-orang yang sangat menginspirasi.

When we arrived at Selasasari village
When we arrived at Selasari village
Introduction session
Introduction session: we just met for 3 days but it feels like I have been known them for a long time.
ngeliwet adalah hal yang nggak ketinggalan selama disana, Yay!
ngeliwet adalah hal yang nggak ketinggalan selama disana, Yay! FYI I get a great moment while sharing meals with them.

Sebuah moment ketika untuk pertama kalinya aku mencoba body rafting dan melompat dari atas batu yang lumayan tinggi ke dalam air. Menurutku hal itu adalah suatu hal yang besar karena rasa penasaran mampu mengalahkan rasa takut yang diciptakan oleh pikiran. Satu hal yang disayangkan adalah aku belum cukup berani untuk melompat dari atas jembatan menuju kumpulan air disela-sela tebing tersebut. Mungkin di suatu waktu nanti aku akan mencoba. Kami mengikuti aliran air disepanjang Goa Petir, menikmati alam yang masih asri, menciptakan sebuah moment dalam ingatan. Tawa dan jeritan riang berkoar ketika para pemandu, yang juga merupakan keluarga baru buat saya, bertindak jahil membalikan ban yang tengah dinaiki hingga kami terjungkal ke dalam air.

Look how happy they are!
Look how happy they are!
Welcome to Goa Petir
Welcome to Goa Petir

Moment lain ketika kami berkunjung ke SMK Bhakti Karya Parigi bersama Kang Ai, pegiat Komunitas Sabalad. Kami diundang untuk menghadiri wisudaan murid kelas tiga. Sekolah tersebut merupakan sekolah yang hampir saja bangkrut namun dengan usaha dan semangat Komunitas Sabalad, mereka mampu menyelamatkan sekolah tersebut. Murid-murid disana pun tidaklah banyak, tidak seperti kebanyakan sekolah yang aku tahu, namun menurutku sekolah tersebut spesial karena banyak perjuangan di dalamnya. Guru-guru disana juga adalah anak-anak muda yang memilih untuk membantu membangun desa dengan gaji yang tidak seberapa. FYI, SMK Bhakti Karya memiliki beasiswa bagi orang-orang yang ingin bersekolah namun tidak mampu dalam hal finansial. Beasiswa tersebut didapat dari sumbangan 50.000/perbulan dari para donatur (termasuk kamu jika ingin membantu). Kami juga disuguhkan teater seru dari anak-anak SD binaan salah satu pegiat Komunitas Sabalad yang juga merupakan guru SD tersebut. Aku terpukau dengan akting yang dilakukan mereka ketika berperan yang mampu mendalami ekspresi-ekspresi dalam peran mereka. Oya teater tersebut bercerita tentang masa ketika Indonesia dijajah Belanda yang pada akhirnya dimenangkan oleh orang Indonesia dengan susah payah. Mereka juga menutup teater tersebut dengan mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku baru tersadar bahwa sudah lama sekali rasanya tidak mengikuti upacara di sekolah dan menyanyikan lagu Indonesia raya.

Ketika anak-anak melakoni peran
Ketika anak-anak melakoni peran
Penghormatan kepada bendera merah putih
Penghormatan kepada bendera merah putih

Di hari lainnya kami membuat sign board untuk wilayah Goa Lanang. Jadi Goa Lanang merupakan area yang memiliki beberapa macam goa, yaitu Goa Petir, Goa Macan, Goa Karaton, Goa Batu Adu, dll. Goa-goa tersebut merupakan tempat wisata baru yang ada di Pangandaran. Ide untuk mempublikasikan obyek wisata Goa Lanang bertujuan untuk melestarikan goa-goa tersebut dari kerusakan yang dilakukan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab karena ditemukan kasus dimana bebatuan di goa dirusak karena demam batu akik. Maka dari itu warga lokal merasa sayang jika situs peninggalan tersebut rusak. Selain Goa Petir, kami juga diajak untuk mengunjungi Goa Keraton dimana di dalamnya terdapat banyak stalakmit dan stalaktit serta bebatuan seperti kristal. Diujung goa, pengunjung akan menemukan batu berbentuk kelamin pria serta batu-batu yang dapat  mengeluarkan suara tangga nada sunda.

Learning to use wood smoothing tool
Learning to use wood smoothing tool
Menjelajahi goa Keraton
Menjelajahi goa Keraton
See the white color behind my friends! that's what I mean something like diamond
See the white color behind my friends! that’s what I mean something like diamond

Menatap langit penuh bintang di kegelapan malam sambil berdiskusi seru tentang kehidupan menambah moment pelarian ini. Malam terakhir disana kami berdiskusi tentang banyak hal, mendengarkan kisah-kisah dari Kang Ai, seorang inspirator malam itu, dengan segala pengalaman gilanya dan semangatnya untuk memajukan desa kelahirannya. Salah satu ucapan Kang Ai yang paling aku ingat malam itu adalah, skripsi bukan tentang lulus atau tidak lulus tapi tentang bagaimana kita mempertahankan argumen. Maka dari itu tidak ada lulus atau tidak lulus skripsi tapi skripsi dapat dipertahankan atau tidak. Well, Deb, Good luck then! Overall, I have a great time during 3 days 2 nights in Pangandaran, Yay!

Making sign boards for caves in Goa Lanang
Making sign boards for caves in Goa Lanang

Ps: Daripada kamu menghamburkan uang buat beli kopi seharga 50.000, mending kamu sumbangkan untuk beasiswa anak-anak calon siswa SMK Bhakti Karya 50.000/bulan. Masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung kamu dan membutuhkan bantuan dari tangan-tangan kalian 🙂

Hari ini saya belajar suatu hal bahwa “selalu ada pengorbanan untuk mendapatkan yang kita inginkan” namun sialnya saya harus memilih dan mengorbankan dua hal yang sama pentingnya, akademis atau passion saya. Di satu sisi, jika saya memilih untuk mengikuti UAS maka artinya saya harus melepaskan COP School yang sudah dari setahun yang lalu saya tunggu. Namun di sisi lain, saya sangat ingin memilih COP School karena  itu adalah gerbang saya menuju karier di konservasi Orangutan,  namun saya tidak bisa serta merta mengabaikan UAS yang juga merupakan hal penting untuk menunjang nilai akademik saya serta mengingat perjuangan saya untuk matkul ini tidaklah mudah. Suara-suara berkecamuk dalam hati saya, saya ingin merasa egois terhadap diri sendiri dengan memilih passion saya dan mengabaikan UAS dan nilai saya, namun saya juga harus memikirkan akibatnya jika saya memilih itu. Saya juga tidak rela melepas COP School karena sudah banyak perjuangan saya menuju tahap ini. Saya benci harus memilih dan memutuskan. Saya benci untuk mengorbankan apa yang telah saya perjuangkan. lagi-lagi sialnya banyak yang sudah saya perjuangkan dari kedua hal tersebut. Saya mati-matian baca buku ini itu untuk presentasi tiap minggu bahkan draft seminar proposal pun saya nomor duakan. Saya juga mengerjakan tugas-tugas untuk seleksi peserta COP School, ke pasar burung yang ga mudah untuk ditempuh, menyempatkan ke kebun binatang pagi-pagi untuk observasi karena sorenya saya harus ke Jakarta. Ini ga adil! Kenapa saya harus memilih dua hal yang sama pentingnya, yang sama2 mati-matian saya perjuangkan. Ini nggak mudah buat saya untuk memilih salah satu diantaranya. God! Which one is worth it to fight for? People said, If you really want something in life, reach out and grab it. Then, should I?

Hashtag Save Orangutans

#SaveUS
Sumber: Klik pada Gambar  #SaveUS

Kenapa Orangutan harus dilindungi?

Jika ditanya tentang hal itu maka saya akan menjawab ada banyak alasan kenapa Orangutan HARUS dilindungi. Pertama Orangutan adalah hewan yang populasinya terancam punah (a endangered animal). Populasi mereka telah menurun sepanjang abad 20 sebagian besar karena ulah manusia seperti perburuan liar, penebangan hutan untuk membuat lahan perkebunan kelapa sawit, perdagangan liar orangutan dan kebakaran hutan. Jika mereka tidak dilindungi dari ulah manusia yang membahayakan kehidupan mereka, mungkin kita tidak akan pernah melihat mereka lagi 10 atau 20 tahun nanti.

Orangutan hanya dapat ditemukan di Indonesia (Sumatra dan kalimantan) dan Malaysia saja. Orangutan adalah salah satu aset untuk kedua negara tersebut karena banyak orang khususnya turis ingin melihat orangutan dan habitat aslinya. Selain itu, orangutan satu-satunya spesies kera besar yang hidup di asia.

10403198_10152947912478944_5995775182168575574_n
Sumber: Klik pada Gambar

Orangutan betina memiliki tingkat reproduksi yang sangat rendah, dan melahirkan satu anak setiap enam sampai sembilan tahun, hal ini membuat orangutan sangat sulit untuk bertahan hidup di tengah-tengah tekanan manusia. Bayangkan bagaimana semakin berkurangnya jumlah populasi orangutan jika kejahatan terhadap mereka terus berlanjut.

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana kedekatan induk orangutan dan anaknya. Sang induk akan bertahan mati-matian untuk melindungi anaknya ketika mereka merasa terancam walaupun pada kebanyakan kasus sang induk akan mati dan anaknya diambil untuk dijual atau dipelihara. Siapa yang tidak akan terharu dengan pengorbanan sang induk kepada anaknya. Walaupun mereka hewan, mereka juga memiliki kasih sayang terhadap satu sama lain, sama seperti manusia. Lalu, kenapa manusia harus tega membunuh mereka? Bukankah Manusia, orangutan dan makhluk lainnya adalah sama, makhluk ciptaan tuhan. Manusia berjuang untuk hidup, begitu juga dengan orangutan dan makhluk hidup lainnya.

#SaveOrangutan #OrangutaninYourPalm

*Tulisan ini dibuat untuk tugas keempat COP SCHOOL Batch #5

Terkungkung dalam Kandang

Jpeg
Poster yang saya temukan di Kebun Binatang Taman Sari

Berkali-kali saya selalu menekankan dalam tiga tugas COP saya bahwa hewan memiliki hak untuk hidup dan bergerak bebas. Lagi-lagi juga saya melihat masih banyak dari mereka yang terjebak di ruang kecil berlapis kawat besi. Hari jumat lalu saya berkunjung ke Kebun Binatang Taman Sari Bandung. Kebun binatang ini adalah salah satu tempat yang sudah sejak lama ingin saya kunjungi namun selalu gagal. Salah satu faktornya adalah isu bahwa kebun binatang ini jelek dan tidak layak. Namun, tugas ketiga COP membuat saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung kesana.

Jpeg
another poster and list of animals there

Kesan pertama ketika masuk ke kebun binatang ini adalah bersih! Iya, area kebun binatang ini sangat bersih dan saya melihat beberapa petugas sedang membersihkan kebun binatang. Mungkin karena masih pagi ketika saya berkunjung kesana atau memang pada dasarnya kebun binatang ini bersih. Entahlah. Semoga dugaan yang kedua. Selain itu, saya juga tidak sulit menemukan tempat sampah di sekitar area kebun binatang. Saya juga menemukan beberapa tulisan himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya. Namun sayangnya tidak semua kandang hewan bersih, ada beberapa kandang yang saya lihat terdapat sampah plastik, contohnya kandang harimau.

Semacam ironi

Ketika sampai di kebun binatang ini, hewan pertama yang saya lihat adalah dua jenis burung makaw di dalam kandang yang super mini. Selain itu saya juga melihat deretan kandang ular sanca, dan berbagai jenis burung, serta jenis hewan lainnya yang juga terlihat sangat mini dan terdapat jumlah hewan yang tidak sedikit pada satu kandang.

Jpeg

Ada beberapa hewan yang menarik perhatian saya ketika berkunjung kesana. Pertama, adalah orangutan tentunya. Tak ada alasan khusus selain saya sangat menyukai primata ini. Namun saya merasa sedih karena di kandang mereka tidak terdapat pohon asli untuk mereka bergelantungan.

Jpeg

Jpeg

Kedua, saya melihat gajah yang sedang makan namun kedua kaki mereka dililit dengan rantai! I have no idea why people do that to this elephant. So sad to see he/her can’t move because of the chain.

Jpeg

Jpeg

Ketiga, binturong. Ketika saya mengintip ke dalam kandang, hewan lucu yang sedang berbaring ini tiba-tiba melompat ke arah kaca. Kemudian saya menangkap ekspresi sedih pada wajahnya yang juga membuat saya merasa iba karena nasibnya yang terkurung di dalam kandang. sendirian.

Jpeg
Binturong

Saya juga melihat jenis primata yang baru pertama kali saya lihat. Hewan tersebut adalah surili.

Jpeg

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah anak-anak kecil yang sangat antusias melihat hewan-hewan tersebut. Ketika saya kecil pun saya merasakan hal yang sama, namun semakin saya besar saya mulai dilema. Saya masih merasakan antusiasme melihat hewan-hewan tersebut dari dekat namun saya juga merasa sedih dan kasihan melihat mereka dikurung karena saya mulai mengerti bahwa hewan-hewan tersebut tidak seharusnya dikurung. Bahwa hewan-hewan tersebut butuh hidup bebas.

Jpeg

Jpeg
Rombongan Anak-anak yang Sedang Berwisata di Kebun Binatang

Overall, kebun binatang Taman Sari tidak seburuk yang saya bayangkan hanya saja kebersihan kandang-kandang hewan perlu lebih ditingkatkan. Saya juga melihat beberapa pengunjung memberikan makan kepada hewan-hewan di kebun binatang. Apakah makanan yang diberikan untuk hewan-hewan tersebut kurang? Karena ketika saya melihat beruang madu yang diberi kacang oleh pengunjung, beruang-beruang tersebut sangat agresif dan nyaris bertengkar satu sama lain. Entah karena rakus atau kelaparan.

*tulisan ini dibuat untuk tugas ketiga COP SCHOOL Batch #5