Hiduplah Indonesia Raya

 

IMG_1800[1]
Hiduplah Indonesia Raya!
Hi! It has been a year I didn’t share my stories. Udah penuh sarang laba-laba keknya :p

 

Anyway, kemarin aku ikutan Kelas Inspirasi Muara Enim 2 di Semende. I am truly happy that finally I can do something that I am passionate about in my hometown. One of the things that I love about doing social works like this is you can meet new friends that can inspired you. Kalau kata Mas Ade, “cari temen yang satu frekuensi tuh susah” and indeed! Pas ketemu sama orang-orang yang punya passion dan kepedulian yang sama itu rasanya semua perasaan dan ide yang ditahan bisa tertuang di tempat yang tepat walaupun satu hari itu nggak cukup. Itu yang aku rasain waktu ikut Kelas Inspirasi 2 kemarin. Setelah satu tahun lebih bertahan dengan pekerjaan yang nggak aku banget dan menahan hasrat untuk mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang cuma bisa dibayangkan di kepala, akhirnya aku bertemu dengan teman-teman yang memiliki misi yang sama dari berbagai macam profesi. Kegiatan kemarin menyadarkan aku kalau orang yang merantau itu tujuannya untuk kembali dan berkontribusi memajukan tempat tinggalnya dengan ilmu yang didapat. Buatku Kelas Inspirasi bukan tentang menginspirasi orang lain, tapi bergerak bersama mewujudkan mimpi (?) Halah hahaa

IMG_1866[1]
Kelas 4 SDN 5 Semende Darat Tengah: Kami punya mimpi dan harapan

 

Advertisements

Life will break you. Nobody can protect you from that, and living alone won’t either, for solitude will also break you with its yearning. You have to love. You have to feel. It is the reason you are here on earth. You are here to risk your heart. You are here to be swallowed up. And when it happens that you are broken, or betrayed, or left, or hurt, or death brushes near, let yourself sit by an apple tree and listen to the apples falling all around you in heaps, wasting their sweetness. Tell yourself you tasted as many as you could.

Louise Erdrich, The Painted Drum

The things that go unsaid are often the things that eat at you–whether because you didn’t get to have your say, or because the other person never got to hear you and really wanted to.

Celeste Ng, Everything I Never Told You

C’mon People!

Pagi ini emosi saya meningkat karena melihat seorang pengendara motor dengan tanpa bersalahnya membuang plastik hitam ke sungai. Orang yang buang sampah sembarangan itu otaknya kenapa sih? Nggak habis pikir deh dengan orang-orang yang dengan entengnya buang sampah di jalan apalagi di sungai! Mereka segitu nggak sadarnya sama dampak dari perbuatan mereka atau emang sebenarnya nggak ada rasa peduli sama sekali dengan lingkungan? Orang-orang yang kayak gitu tuh egois cuma mikirin diri sendiri. Saya yakin tiap orang pasti risih sama sampah-sampah mereka, tapi bukan berarti segampang itu melenyapkannya dari pandangan. Mereka kira dengan membuang sampah-sampah dari rumah ke sungai itu selesai tugas mereka. NGGAK! Mereka sama aja menambah masalah baru.

Tiga tahun saya berkutat dengan kegiatan kerelawanan membersihkan sungai Cikapundung bersama teman-teman relawan saya dan dibantu oleh komunitas Cikapundung yang sudah lebih dulu membersihkan sungai tanpa diminta, dan itu nggak pernah kelar. Kenapa? karena masyarakatnya masih banyak yang belum sadar. Giliran banjir mereka nyalahin orang lain. Nggak mikir penyebab sebenarnya apa.

Dari pengalaman itu saya sadar bahwa permasalahan sampah ini nggak akan pernah selesai kalau nggak semua orang sadar dan turun tangan. Nggak perlu membantu bersih-bersih sungai, karena saya yakin nggak banyak yang sudi. Tapi paling tidak membantu mengurangi produksi sampah itu sudah sangat berarti, misal tidak membuang-buang makanan, dan pengurangan penggunaan plastik.

Sadar tidak sadar masalah sampah ini sangat besar dampaknya. Sampah yang mengalir dari sungai akan berakhir di laut. Sedangkan sampah-sampah banyak yang dari plastik yang tidak bisa terurai. Dan bumi ini sebagian besar adalah laut. Bayangkan jika masih banyak manusia yang tidak sadar akan masalah ini, akan seperti apa laut kita nanti? Hewan di laut mati, gas metana dalam laut terlepas ke atmosper. Dan itu artinya semakin parah pemanasan global. So, C’mon people buka mata, telinga dan hati kalian untuk lebih peduli dengan bumi dan isinya.

Oya saya cukup senang dengan peraturan baru pemerintah tentang plastik berbayar. Harusnya harga perplastik itu 5000-10000 biar orang mikir-mikir lagi buat mengeluarkan uang segitu untuk plastik yang hanya sekali pakai.

Bag It Now or Never!

“Think about it, why would you make something that you’re going to use for a few minutes out of a material that’s basically going to last forever, and you’re just going to throw it away. What’s up with that?”

– Jeb Berrier

Melakukan kegiatan sosial bertema lingkungan dan hewan semakin membuatku belajar banyak tentang isu-isu lingkungan. Akhir-akhir ini, sering kali film-film yang saya tonton beralih ke film dokumenter tentang isu lingkungan dan hewan. Di mulai dengan rasa penasaran saya tentang kejahatan berkedok LSM yang peduli lingkungan, saya mulai mencari tau informasi melalui google dan media sosial. Suatu hari, saya membaca sebuah postingan dari teman saya yang menyebut film Cowspiracy. Saya langsung mencari tahu tentang film tersebut.

Ketika menonton saya mendapati sebuah fakta dari film tersebut bahwa faktor utama yang merusak lingkungan itu adalah kotoran hewan ternak! Namun, hal tersebut tidak banyak diangkat oleh NGO-NGO yang katanya peduli lingkungan. Masalah itu lah yang diangkat oleh film ini. Ada apa dengan organisasi-organisasi tersebut? Sejak aku menonton film tersebut, aku bertekat untuk menjadi vegan. Tentunya menjadi sepenuhnya vegan tidaklah mudah, namun saya mulai belajar untuk mengurangi konsumsi produk ternak dan memperbanyak makan sayur dan buah. Untungnya tidaklah terlalu sulit untuk tidak makan daging, ikan atau susu karena pada dasarnya saya tidak begitu menyukai makanan tersebut. Namun saya masih belajar untuk mengurangi konsumsi dairy product.

Selain film Cowspiracy, saya mulai mencari tau banyak film-film dokumenter lain tentang isu lingkungan dan hewan. Ternyata isu yang menarik perhatian saya saling bersinggungan. Isu kerusakan lingkungan sangat berdampak dengan kehidupan hewan. Hutan rusak berarti tidak ada habitat untuk hewan-hewan.

Terlalu banyak masalah di sekitar kita yang baru saya sadari. Semakin banyak saya tahu, semakin resah dan pening kepala. Saya ingin melakukan perubahan minimal untuk diri sendiri namun ternyata tidaklah mudah tanpa dukungan dari orang-orang di sekitar.

Baru-baru ini saya menonton film dokumenter tentang plastik. Semenjak saya sering melakukan kegiatan membersihkan sungai Cikapundung bersama relawan GREAT, saya semakin sadar bahwa masalah lingkungan itu sangat banyak terlebih lagi membersihkan sungai dari sampah-sampah tidaklah mudah.

Apalagi ketika menonton film Bag It, orang-orang yang peduli lingkungan membersihkan laut (bukan lagi sungai!) dari sampah-sampah plastik yang sudah mengurai terkena sinar matahari menjadi potongan-potongan kecil. Plastik-plastik tersebut sangat berbahaya karena mengandung toksin dan banyak kasus hewan laut mati karena memakan plastik yang mereka kira adalah makanan. Menurut artikel yang saya baca, beberapa tahun ke depan jumlah plastik di laut akan lebih banyak daripada jumlah ikan di laut jika kita tidak mengurangi bahkan berhenti menggunakan plastik. Karena membersihkan apa yang sudah tercemar pastilah membutuhkan waktu yang lama, namun kita bisa membantu dengan cara mengurangi penggunaan plastik agar sampah di luar sana tidak bertambah dan hewan-hewan laut tidak banyak yang mati karena salah mengira plastik sebagai makanan.

Perlu untuk diketahui bahwa plastik terbuat dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. So, berdasarkan kutipan Jeb Berrier “….why would you make something that you’re going to use for a few minutes out of a material that’s basically going to last forever, and you’re just going to throw it away. What’s up with that?”

**Baca juga https://debbyboydeboy.wordpress.com/2015/05/06/start-from-small-things-to-save-them/

*Kunjungi juga http://www.bagitmovie.com

New Life New Job and Sucks

I am not ready for my new fase, leaving my life as a college student, to begin a new fase as a employee (fortunately I get a job but I seem not enjoy it, well.. what’s that all for) and I should stuck with it for a year (I hope I find a new job next year or go abroad for volunteering/traveling/studying). Gosh, I know I am being such a grouchy when I shouldn’t. I am feeling thankful for this job but I don’t know it’s kind hard. Well, I hope I can pass the days well here and learn many new things. *fingercrossed*

Retrospeksi 2015

Tahun 2015 baru saja berlalu, tentunya banyak momen yg telah terjadi. Maka dari itu aku ingin mengulas kembali apa saja yang sudah kulalui setahun kemarin. Mulai dari Januari 2015, aku bersama Fina melaksanakan weekend workcamp pertama yang serba mepet, lalu bertemu dengan partisipan-partisipan workcamp yang menjadi teman baru saya. Di bulan Februari, saya menjadi volunteer festival imajinasi dan sekali lagi saya bertemu dengan orang-orang baru. Kemudian perkuliahan semester 7 dimulai, pusing skripsi dan revisian ditambah kelas Psikolinguistik yg luar biasa, galau milih UAS psikolinguistik atau ikut COP School. Nggak lupa juga cobaan puasa bolak balik Bandung-Jatinangor buat mengantarkan draft skripsi ke rumah dosen yg ga sampe 5 menit ngalahin perjalanan kesananya yg hampir 2 jam tapi akhirnya ga disangka berhasil sidang skripsi di bulan agustus! Yay~Alhamdulillah!

Berakhirnya semester 7 berarti berpisah dengan anak2 Winter (Erika, Mbak Win, Ojik, Hera). Sedih 😦 Winter nggak sama lagi tanpa mereka. Oya, abis sidang malemnya langsung berangkat ke Malang untuk pertama kalinya bareng Lala buat ikut PROFAUNA Camp selama 3 hari. Untuk pertama kalinya ngerasain camping di hutan dengan teman-teman baru, belajar tentang GPS dan camera trap. Seruu!;  dilanjut nyelesain 2 workcamp sekaligus bareng cewek-cewek dari Skotlandia (di Batu Loceng) dan Jepang (di Tamansari); terus liburan ke Pangandaran nemenin partisipan Jepang (Miki, Mona dan Yoko). Pokoknya agustus-september jadi bulan tersibuk, full kegiatan tapi seneng; setelah itu persiapan wisuda di bulan November. Yihaaa~ Oktober berlalu.

Akhirnya momen spesial itu datang, momen dimana aku bener2 ngerasa disayang banget sama orang2 disekitar, bahagianya full banget! pengen diulang lagi klo bisa. Finally, bulan desember di tahun 2015. Ditawarin kerja di perusahaan IT yg kebetulan lagi butuh tenaga di tempat kelahiran. Sempet galau karena pengennya kerja di Bandung/luar kota selain Palembang dan nyari kerja yg sesuai dengan passion/jurusan tapi apa daya nyari kerja ga segampang itu.

Banyak hal bermakna yang terjadi di tahun 2015 dan setelah di rewind waktu emang bener2 cepat berlalu. Sekarang lembaran lama sudah tertutup digantikan lembaran baru yg aku harap juga ga kalah bermaknanya dari tahun 2015. Amin

Well, Selamat Datang 2016. Aku siap menyongsong lembaran-lembaran baruku. Anyway, dengan berat hati tinggal hitungan hari untuk meninggalkan Jatinangor dan Bandung. Sediihhh 😦